Harian BERITA KOTA
Kamis, 02 April 2009 04:18
JAKARTA-PDIP menyatakan protes keras kepada Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) karena memasukkan partainya dalam daftar partai politik yang dicoret oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan diumumkan Bawaslu pada Selasa (31/3) lalu. Padahal, menurut anggota Badan Pemenangan Pemilu (Bappilu) PDIP Masinton Pasaribu kepada Berita Kota di Jakarta, Rabu (1/4), tidak ada satu pun struktur partainya yang lupa menyerahkan rekening kampanye maupun dana awal kampanye. Karena itu, politisi PDIP itu meminta agar Bawaslu kembali melakukan cek silang terhadap informasi yang telah mereka sampaikan itu. Bahkan, PDIP menuntut Bawaslu agar melakukan validasi data mereka dan mengonfirmasikannya dengan PDIP sehingga dapat diketahui kebenarannya. Setelah itu, baru mereka boleh mengumumkannya kepada publik dan bukannya langsung diumumkan dengan begitu saja. Masinton menambahkan, pihaknya akan menuntut agar Bawaslu minta maaf dan meralat informasi yang telah mereka sampaikan kalau terbukti salah. “Harusnya mereka lakukan cek silang ke bawah dan juga ke partai agar informasinya valid. Jangan main umumkan saja. Karena itu kami minta Bawaslu minta maaf kalau terbukti salah,” tandasnya. O cr-6
Masinton Pasaribu, SH Anggota Komisi III DPR-RI Fraksi PDI Perjuangan Dapil: DKI Jakarta II
Rabu, 15 April 2009
Golput Warnai Pemilihan Presiden 2004 Juli 8, 2004
Aksi golput (golongan putih/tidak memilih) kembali menampilkan diri pada pemilihan presiden (pilpres) 5 Juli 2004. Di kantor YLBHI Jakarta, Sabtu (3/7) lalu sekelompok aktifis gerakan pemuda mendeklarasikan sikap golput. Mereka adalah Forum Perjuangan Pemuda Indonesia (FPPI), HMI MPO, Lingkar Studi-Aksi untuk Demokrasi (LS-ADI) dan Gerakan Mahasiswa Sosialis (GMS). Selain itu juga tergabung beberapa aktifis yang mengatasnamakan pribadi seperti Syafieq Alieha, Fadjrul Rahman dan Masinton Pasaribu.
Alasan mereka untuk bersikap golput karena lima pasangan capres-cawapres dianggap mengecewakan. Alasan lain semua capres-cawapres dianggap mengobral janji palsu, memutarbalikkan fakta sosial yang ada. Capres-cawapres yang punya latar belakang pernah memegang kekuasaan dianggap tidak pernah menggunakan jabatannya untuk kepentingan rakyat. Bahkan cenderung dinilai telah memanipulasi keterbelakangan rakyat untuk melegitimasi kekuasaan.
Tentu, alasan golput mereka tidak sama dengan Gus Dur yang juga punya sikap yang sama. Gus Dur bersikap golput karena dirinya dinyatakan tidak lolos seleksi persyaratan capres oleh KPU. Gus Dur kecewa terhadap KPU dan sikap golputnya sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan yang dialaminya. Golputnya Gus Dur sebagai sikap pribadi dan tidak mewakili institusi PKB yang dipimpinnya.
Oleh karena itu di pelbagai kesempatan Gus Dur selain mensosialisikan sikap golputnya, juga menyatakan bahwa pasangan Wiranto-Gus Solah layak dipilih karena dianggap bisa menumbuhkan proses demokrasi. Pasangan capres-cawapres ini memang didukung Partai Golkar dan PKB. Mau tidak mau Gus Dur harus memberikan penilaian positip terhadap Wiranto dan Gus Solah (adik kandung Gus Dur).
Menilik ideologi gerakan golput di Indonesia, memang punya sejarah panjang. Gerakan ini lahir pada masa orde baru berkuasa menggelar pemilu 1971 (pemilu pertama) sampai dengan pemilu 1997 (pemilu terakhir). Mereka bersikap golput karena tidak setuju dengan sistem politik yang diterapkan pemerintah orde baru. Ketika pemerintahan reformasi pun gerakan golput tetap eksis pada pemilu 1999. Jumlah golput pada pemilu kali ini menurun cukup drastis. Karena sistem politik sudah mengalami perubahan sehingga ada 48 parpol peserta pemilu.
Setelah lima tahun berjalan, ternyata penguasa baru dinegeri ini (dari parpol) dinilai mengecewakan rakyat. Maka golput pun marak lagi pada pemilu (legislatif) 5 April 2004 yang diikuti 24 parpol itu. Jumlah golput melonjak sampai mencapai angka lebih dari 34,5 juta atau hampir 24 persen. Padahal jumlah golput pada pemilu 1999 hanya berkisar 11 persen.
Ternyata, pada pemilu presiden (pilpres) 5 Juli 2004 juga diwarnai maraknya sikap golput. Belum ada penelitian secara khusus tentang kesamaan personal pelaku golput pada pemilu legislatif dan pilpres. Secara umum harusnya jumlah golput pada pilpres bisa turun karena model pemilihannya secara langsung oleh rakyat. Untuk memastikan teori ini harus menunggu selesainya perhitungan suara secara nasional.
Mengingat pilpres 5 Juli 2004 lalu adalah putaran pertama, maka sangat menarik untuk memprediksi potensi golput pada pilpres putaran kedua yakni 20 September 2004 nanti. Pertama, pengikut golput yang sekarang ini tetap konsisten dengan sikap politiknya. Hal itu dilakukan karena alasan mereka bersikap golput tetap sama yakni tidak suka dengan figur lima pasangan capres-cawapres yang ada. Sedangkan yang lolos ikut pilpres putaran kedua nanti adalah dua pasangan diantara lima capres-cawapres itu juga.
Kedua, akan ada penambahan banyaknya golput baru yang berasal dari mantan pendukung tiga pasangan capres-cawapres yang kalah dalam pilpres putaran pertama. Sikap golput ini logikanya sederhana yakni jago capres-cawapres mereka sudah kalah maka tidak perlu ada lagi calon yang harus didukung. Menghadapi pemilih jenis ini tentu saja pasangan capres-cawapres dan elit parpol pendukungnya harus hati-hati.
Jenis golput baru ini pasti kecewa kalau capres-cawapres dan elit parpolnya melakukan kaolisi dengan bargaining “menjual” suara pendukungnya kepada salah satu capres di putaran kedua. Tentu mereka akan menghukum parpol tersebut pada pemilu berikutnya. Mereka tidak akan mendukung parpol itu lagi pada pemilu 2009. Bahkan capres-cawapres yang bakal dimunculkan parpol tersebut pada pilpres 2009 juga tidak bakalan didukung.
Ketiga, sebagain pengikut golput (putaran pertama) akan berubah tidak golput lagi pada pilpres putaran kedua. Realitas di lapangan memang menunjukkan ada kelompok pemilih yang bersikap seperti ini. Mereka akan memberikan dukungan kepada salah satu pasangan capres-cawapres yang tampil di putaran kedua. Bahkan tidak tertutup kemungkinan Gus Dur akan mencabut sikap golputnya pada pilpres putaran kedua karena suatu alasan politik tertentu.
Alasan mereka untuk bersikap golput karena lima pasangan capres-cawapres dianggap mengecewakan. Alasan lain semua capres-cawapres dianggap mengobral janji palsu, memutarbalikkan fakta sosial yang ada. Capres-cawapres yang punya latar belakang pernah memegang kekuasaan dianggap tidak pernah menggunakan jabatannya untuk kepentingan rakyat. Bahkan cenderung dinilai telah memanipulasi keterbelakangan rakyat untuk melegitimasi kekuasaan.
Tentu, alasan golput mereka tidak sama dengan Gus Dur yang juga punya sikap yang sama. Gus Dur bersikap golput karena dirinya dinyatakan tidak lolos seleksi persyaratan capres oleh KPU. Gus Dur kecewa terhadap KPU dan sikap golputnya sebagai bentuk protes terhadap ketidakadilan yang dialaminya. Golputnya Gus Dur sebagai sikap pribadi dan tidak mewakili institusi PKB yang dipimpinnya.
Oleh karena itu di pelbagai kesempatan Gus Dur selain mensosialisikan sikap golputnya, juga menyatakan bahwa pasangan Wiranto-Gus Solah layak dipilih karena dianggap bisa menumbuhkan proses demokrasi. Pasangan capres-cawapres ini memang didukung Partai Golkar dan PKB. Mau tidak mau Gus Dur harus memberikan penilaian positip terhadap Wiranto dan Gus Solah (adik kandung Gus Dur).
Menilik ideologi gerakan golput di Indonesia, memang punya sejarah panjang. Gerakan ini lahir pada masa orde baru berkuasa menggelar pemilu 1971 (pemilu pertama) sampai dengan pemilu 1997 (pemilu terakhir). Mereka bersikap golput karena tidak setuju dengan sistem politik yang diterapkan pemerintah orde baru. Ketika pemerintahan reformasi pun gerakan golput tetap eksis pada pemilu 1999. Jumlah golput pada pemilu kali ini menurun cukup drastis. Karena sistem politik sudah mengalami perubahan sehingga ada 48 parpol peserta pemilu.
Setelah lima tahun berjalan, ternyata penguasa baru dinegeri ini (dari parpol) dinilai mengecewakan rakyat. Maka golput pun marak lagi pada pemilu (legislatif) 5 April 2004 yang diikuti 24 parpol itu. Jumlah golput melonjak sampai mencapai angka lebih dari 34,5 juta atau hampir 24 persen. Padahal jumlah golput pada pemilu 1999 hanya berkisar 11 persen.
Ternyata, pada pemilu presiden (pilpres) 5 Juli 2004 juga diwarnai maraknya sikap golput. Belum ada penelitian secara khusus tentang kesamaan personal pelaku golput pada pemilu legislatif dan pilpres. Secara umum harusnya jumlah golput pada pilpres bisa turun karena model pemilihannya secara langsung oleh rakyat. Untuk memastikan teori ini harus menunggu selesainya perhitungan suara secara nasional.
Mengingat pilpres 5 Juli 2004 lalu adalah putaran pertama, maka sangat menarik untuk memprediksi potensi golput pada pilpres putaran kedua yakni 20 September 2004 nanti. Pertama, pengikut golput yang sekarang ini tetap konsisten dengan sikap politiknya. Hal itu dilakukan karena alasan mereka bersikap golput tetap sama yakni tidak suka dengan figur lima pasangan capres-cawapres yang ada. Sedangkan yang lolos ikut pilpres putaran kedua nanti adalah dua pasangan diantara lima capres-cawapres itu juga.
Kedua, akan ada penambahan banyaknya golput baru yang berasal dari mantan pendukung tiga pasangan capres-cawapres yang kalah dalam pilpres putaran pertama. Sikap golput ini logikanya sederhana yakni jago capres-cawapres mereka sudah kalah maka tidak perlu ada lagi calon yang harus didukung. Menghadapi pemilih jenis ini tentu saja pasangan capres-cawapres dan elit parpol pendukungnya harus hati-hati.
Jenis golput baru ini pasti kecewa kalau capres-cawapres dan elit parpolnya melakukan kaolisi dengan bargaining “menjual” suara pendukungnya kepada salah satu capres di putaran kedua. Tentu mereka akan menghukum parpol tersebut pada pemilu berikutnya. Mereka tidak akan mendukung parpol itu lagi pada pemilu 2009. Bahkan capres-cawapres yang bakal dimunculkan parpol tersebut pada pilpres 2009 juga tidak bakalan didukung.
Ketiga, sebagain pengikut golput (putaran pertama) akan berubah tidak golput lagi pada pilpres putaran kedua. Realitas di lapangan memang menunjukkan ada kelompok pemilih yang bersikap seperti ini. Mereka akan memberikan dukungan kepada salah satu pasangan capres-cawapres yang tampil di putaran kedua. Bahkan tidak tertutup kemungkinan Gus Dur akan mencabut sikap golputnya pada pilpres putaran kedua karena suatu alasan politik tertentu.
REPDEM: PERUBAHAN BERSAMA MEGAWATI

Relawan Perjuangan Demokrasi (Repdem) dideklarasikan 52 aktivis garis keras berdasarkan kebersamaan dalam cita-cita membangun dan membesarkan PDI Perjuangan untuk memperjuangkan kedaulatan rakyat. Di berbagai daerah, Repdem disambut positif. Kini telah terbentuk 24 cabang se Indonesia.
Luar biasa! Mungkin kata itulah yang tepat untuk menunjukkan fenomena begitu cepatnya organisasi Relawan Perjuangan Demokrasi Indonesia (Repdem) berkembang. Bayangkan, kurang dari empat bulan sejak dideklarasikan pada 3 Februari 2004, saat ini sudah memiliki 24 cabang di Indonesia. Artinya. organisasi yang bertekad menggalang para aktivis pergerakan ke PDI Perjuangan ini berhasil membangun enam cabang di tingkat kabupaten/kota per bulan. Tentu ini bukanlah pekerjaan ringan.
Sejarah Repdem berawal menjelang Pemilihan Presiden (Pilpres) Putaran II lalu. Pada saat itu, menurut Koordinator Repdem Bambang Beathor Suryadi, yang terjadi adalah Megawati yang mewakili kelompok sipil berhadapan dengan Susilo Bambang Yudhoyono yang mewakili kelompok tentara. Demi memperkuat posisi sipil, maka lahirlah elemen-elemen yang mendukung Megawati. "Ada elemen yang menyebut dirinya barisan sipil bersatu, jaringan demokrasi sipil, terus jaringan-jaringan yang menyatakan sipil dan demokrasi," ujar Beathor. Ketika Megawati sudah mengatakan kekurangan suara, maka beberapa di antara aktivis berkumpul di Jatinegara. Dan di Jatinegara inilah terlontar pembicaraan untuk mendirikan Repdem yang berafiliasi ke PDI Perjuangan.
"Bergabungnya Masinton yang telah melakukan perlawanan terhadap militer, kemudian Budiman Sudjatmiko yang juga menyatakan diri mau ikut ke partai. Ini gabungan dari beberapa kelompok yang menyatakan diri bersedia masuk ke partai PDI Perjuangan," lanjut Beathor.
Patut dicatat, melalui berbagai pendekatan dan komunikasi yang intens, sebagai langkah awal terhimpunlah 52 nama yang selama ini dikenal sebagai aktivis "garis keras": Mereka siap mendeklarasikan diri sebagai Repdem. Uniknya, dalam organisasi ini tidak hanya aktivis yang dicap "kiri" seperti Budiman Sudjatmiko, Wignyo, dan lain-lain yang bergabung, tetapi aktivis dari Gerakan Pemuda Islam pun ada, seperti Ben Yono.
"Faktor yang mempersatukan adalah cita-cita dan kebersamaan. Memiliki kebersamaan dalam cita-cita membesarkan dan membangun partai," tandas Beathor. Cita-cita bersama itu kemudian dirumuskan dalam sebuah platform yang terdiri dari beberapa point. Salah satunya, ideologi kerakyatan berdasarkan Piagam Pancasila 1 Juni 1945 (berdaulat secara politik, mandiri dibidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan).
Mengapa menggunakan nama "relawan"'? "Sempat terpikir gerakan pro-demokrasi. Tapi karena gerakan pro-demokrasi banyak yang menyeberang ke pihak militer yang menindas demokrasi, maka kami alergi menggunakan nama pro-demokrasi. Kami pakailah relawan," jelas Beathor.
Masuknya aktivis Repdem ke PDI Perjuangan mendapat tanggapan positif dari berbagai cabang. Hal ini menunjukkan akar rumput PDI Perjuangan sangat gembira dengan bergabungnya aktivis-aktivis tersebut. "Saya sangat setuju. Seperti Budiman Sudjatmiko, yang kami tahu adalah pejuang demokrasi. Sudjatmiko ini orang keras. Mudah-mudahan bisa mewarnai," kata Ketua DPC Kabupaten Pandeglang Aris Turis Nadi.
Sebagai organisasi anak muda pro PDI Perjuangan, Repdem tentu memiliki target. Pertama, mendapatkan kembali suara yang hilang sebesar 16 juta suara. Kedua, merebut suara pemilih pemula sebesar 25 juta. Ketiga, meraup suara golput sebesar 20 persen dari jumlah pemilih yang terdaftar di KPU. Keempat, mengumpulkan kembali suara kader yang berserakan karena "kecewa" dengan melakukan rekonsiliasi.
Untuk mencapai target tersebut, Repdem memiliki enam agenda. Pertama, aksi protes massal maupun delegasi atas berbagai kebijakan pemerintah yang tidak berpihak pada rakyat. Kedua. advokasi kasus perseIisihan rakvat dengan pemerintah. Ketiga, kampanye simpati pemilih pemula dalam bentuk keljasama entertaintment seperti olahraga dan musik. Keempat, kerjasama/binamitra dengan kelompok penggerak golput. Kelima. menggalang solidaritas sosial peduli benca alam (bakti sosial). Keenam, kegiatan kajian seperti diskusi, seminar, dan training atau pendidikani politik.
Untuk tetap meneguhkan aktivis yang bergabung di dalamnya, Repdem membuat semacam kode etik yang disebut Prinsip Dasar Repdem. Kader-kader Repdem wajib menjunjung tinggi prinsip dasar tersebut. Prinsip dasar itu ada tujuh. Di antaranya, pertama, Piagam PDl Perjuangan, AD/ART.Kedua, menjaga semangat dan ketulusan aktivis partai agar dekat dan erat dengan rakyat. Ketiga, mengawal terlaksananya program partai di kalangan massa rakyat secara disiplin. Dan keempat, kader-kader perjuangan yang tidak tinggi hati, ramah pada rakyat, dan mencari keuntungan material dari partai dan dari rakyat".
Repdem ke depan, menurut Masinton Pasaribu sekretaris Repdem, adalah membangun cita-cita nasional, demokrasi, kerakyatan bersama-sama dengan masyarakat atau konstituen PDI Perjuangan lainnya dalam rangka penegakkan kedaulatan . "Seperti apa
yang pernah diutarakan oleh Bung Karno dulu dengan istilah Trisakti. Berdaulat di bidang politik, mandiri dibidang ekonomi, dan berkepribadian di bidang kebudayaan," kata Masinton.
Lalu bagaimana, soal gagasan perubahan yang kini banyak disebut-sebut menjelang kongres? Masinton setuju dengan perubahan. "Partai memang perlu dibenahi. Repdem sangat mendukung perubahan. Tapi perubahan bersama Mega".
(Arsip K.Prawira: "Repdem: Perubahan bersama Megawati", BANGSA, Edisi 10 Senin 28 Maret 2005)
Kawanku Bang Masinton Pasaribu,SH
harianto's Site
* Home
* Blog
* Photos
* Music
* Links
Blog Entry Kawanku Masinton Pasaribu,SH Dec 20, '08 7:43 AM
for everyone
Kawanku Bang Masinton Pasaribu,SH
http://www.masinton.blogspot.com
Bang, apakah kau ingat bahwa kita pernah ditembaki bersama?
Kala itu Tragedi Semanggi II, kita bersama kawan-kawan Famred, berjalan jauh dari Manggarai, untuk ditembaki di bawah jembatan Taman Ria Senayan. Pasti kau ingat itu bang.
Apakah kau ingat, kalau kita pernah dipenjara bersama?
Saat itu di Polda Metro Jaya, karena UU No 12 Th 2000, kita dipenjara dan di bela kawan-kawan dari PBHI sebanyak 14 orang pengacaranya.
Kala itu aku ingat, kenakalan kau bang, kau curi pakai baju Polisi, dari dalam lemari ganti mereka, lengkap dengan topi dan celana yang kau pakai sampai kedodoran, di penjara mereka pula. Sampai-sampai hampir saja kau dipukuli Polisi, kalau kawan-kawan tak melindungi tubuh kecilmu itu.
Ingatkah kau, saat ditanyai hakim di pengadilan Jakarta Pusat, kau dan Bernard adalah Mahasiswa tertua yang tertangkap polisi saat itu. hehehe
Bang, banyak orang yang tak akan percaya, bila kau pimpin doa makan, karena pasti kau plesetkan doa “Bapa kami di Surga, Ibu kami di Jakarta, apakabarnya”. Hahaha. Bercandamu itu dahulu selalu membuat kami terpingkal-pingkal…
Bang, aku kagum dengan gerakan kau dan para abang becak yang kau bela. Walau dicemooh orang , tapi kau tetap maju menaiki becak-becak itu, untuk berada paling depan dan membela mereka.
Bang, akupun kagum saat kau selalu berada didepan keluarga korban Mei 98, Trisakti dan Semanggi I dan II. Seakan-akan kau tidak pernah melupakan nyawa kawan-kawan yang telah gugur mendahului kita.
Sekarang kau telah menjadi Caleg PDIP no 10 untuk pemilu nanti. Aku percaya pada kau bang. Bahwa kesederhanaan dan kesetiakawanan akan tetap berada di atas segalanya bagi dirimu.
Pesanku padamu, jangan lagi biarkan rakyat ini meneteskan air mata penderitaan bang, kumohon padamu…perjuangkanlah mereka…
Kemudian jangan kau ikuti 5D nya para anggota dewan yang terhormat yang dahulu kala.
Yang terakhir, bela arwah para pahlawan reformasi, yang sampai saat ini, dibiarkan begitu saja.
Ingat selalu bang…Rakyat Kuasa
Hormatku,
Harianto Talim
Rakyat Biasa.
Tags: masinton kawanku
Prev: 3Juta Lapangan Kerja di 2009
Next: Aku mencintaimu, sumpah deh
reply share
10 CommentsChronological Reverse Threaded
ariefkurni
reply
ariefkurni wrote on Dec 20, '08
Kemaren aq liat dimetro tv bang ttg beliau..
Keren ya pngalaman 98
ariefkurni
reply
ariefkurni wrote on Dec 20, '08
Ga ikut nyaleg bang?
Hee abang2ku jg bnyak yg jd caleg.
Eh liat metro kmaren?pertanyaane sama persis dgn ku,knap budiman sujatmiko ke pdip?
Apa ga aneh,kemana ke kiri an dia skrg?ada deal politik mcm apa?
Hii
njlimet.
Kdg idealsm itu bs luntur klo terbentur
aggiechan
reply
aggiechan wrote on Dec 20, '08
semoga suratnya di baca...
yuniimoet
reply
yuniimoet wrote on Dec 21, '08
uhmmm jadi terharu nih......... :(
t471m
reply
t471m wrote on Dec 21, '08
Hahaha...Arief kiri...tetep aja kiri...Kawan2 aktivis yang mulai masuk parpol, karena perjuangan di jalanan tidak menghasilkan. sehingga mereka berniat mencapainya lewat kekuatan dalam parlemen. untuk ke depannya, yaa berdoa saja semoga yaa. hehehe
t471m
reply
t471m wrote on Dec 21, '08
thanx to salma...atas kunjungannya. hehehe
buat Aggie...sudah ditelp kok orangnya. trus dipaksa suruh baca. hehehe
aggiechan
reply
aggiechan wrote on Dec 21, '08
biar saya gak sia sia waktu peristiwa itu susah pulangkuliahnya gara gara terjebak di taksiiii
t471m
reply
t471m wrote on Dec 21, '08
waduh, jadi ga enak ati.lain kali kalo terjebak macet gara-gara demo...sebut namaku 3 kali...pasti deh...ga efek juga. tetap aja macet.hihihi
niceday11
reply
niceday11 wrote on Dec 21, '08
hmmmmm.....kangen saat-sat itu.
t471m
reply
t471m wrote on Dec 22, '08
Hallo Bro, kemana aja lo?buset habis ke batam ga bawa oleh-oleh. trus menghilang lagi.hehehe tar pemilu pilih kawan gue Masinton yee. hahaha gue kayak tim suksesnya aja.
audio reply video reply
Add a Comment
* Home
* Blog
* Photos
* Music
* Links
Blog Entry Kawanku Masinton Pasaribu,SH Dec 20, '08 7:43 AM
for everyone
Kawanku Bang Masinton Pasaribu,SH
http://www.masinton.blogspot.com
Bang, apakah kau ingat bahwa kita pernah ditembaki bersama?
Kala itu Tragedi Semanggi II, kita bersama kawan-kawan Famred, berjalan jauh dari Manggarai, untuk ditembaki di bawah jembatan Taman Ria Senayan. Pasti kau ingat itu bang.
Apakah kau ingat, kalau kita pernah dipenjara bersama?
Saat itu di Polda Metro Jaya, karena UU No 12 Th 2000, kita dipenjara dan di bela kawan-kawan dari PBHI sebanyak 14 orang pengacaranya.
Kala itu aku ingat, kenakalan kau bang, kau curi pakai baju Polisi, dari dalam lemari ganti mereka, lengkap dengan topi dan celana yang kau pakai sampai kedodoran, di penjara mereka pula. Sampai-sampai hampir saja kau dipukuli Polisi, kalau kawan-kawan tak melindungi tubuh kecilmu itu.
Ingatkah kau, saat ditanyai hakim di pengadilan Jakarta Pusat, kau dan Bernard adalah Mahasiswa tertua yang tertangkap polisi saat itu. hehehe
Bang, banyak orang yang tak akan percaya, bila kau pimpin doa makan, karena pasti kau plesetkan doa “Bapa kami di Surga, Ibu kami di Jakarta, apakabarnya”. Hahaha. Bercandamu itu dahulu selalu membuat kami terpingkal-pingkal…
Bang, aku kagum dengan gerakan kau dan para abang becak yang kau bela. Walau dicemooh orang , tapi kau tetap maju menaiki becak-becak itu, untuk berada paling depan dan membela mereka.
Bang, akupun kagum saat kau selalu berada didepan keluarga korban Mei 98, Trisakti dan Semanggi I dan II. Seakan-akan kau tidak pernah melupakan nyawa kawan-kawan yang telah gugur mendahului kita.
Sekarang kau telah menjadi Caleg PDIP no 10 untuk pemilu nanti. Aku percaya pada kau bang. Bahwa kesederhanaan dan kesetiakawanan akan tetap berada di atas segalanya bagi dirimu.
Pesanku padamu, jangan lagi biarkan rakyat ini meneteskan air mata penderitaan bang, kumohon padamu…perjuangkanlah mereka…
Kemudian jangan kau ikuti 5D nya para anggota dewan yang terhormat yang dahulu kala.
Yang terakhir, bela arwah para pahlawan reformasi, yang sampai saat ini, dibiarkan begitu saja.
Ingat selalu bang…Rakyat Kuasa
Hormatku,
Harianto Talim
Rakyat Biasa.
Tags: masinton kawanku
Prev: 3Juta Lapangan Kerja di 2009
Next: Aku mencintaimu, sumpah deh
reply share
10 CommentsChronological Reverse Threaded
ariefkurni
reply
ariefkurni wrote on Dec 20, '08
Kemaren aq liat dimetro tv bang ttg beliau..
Keren ya pngalaman 98
ariefkurni
reply
ariefkurni wrote on Dec 20, '08
Ga ikut nyaleg bang?
Hee abang2ku jg bnyak yg jd caleg.
Eh liat metro kmaren?pertanyaane sama persis dgn ku,knap budiman sujatmiko ke pdip?
Apa ga aneh,kemana ke kiri an dia skrg?ada deal politik mcm apa?
Hii
njlimet.
Kdg idealsm itu bs luntur klo terbentur
aggiechan
reply
aggiechan wrote on Dec 20, '08
semoga suratnya di baca...
yuniimoet
reply
yuniimoet wrote on Dec 21, '08
uhmmm jadi terharu nih......... :(
t471m
reply
t471m wrote on Dec 21, '08
Hahaha...Arief kiri...tetep aja kiri...Kawan2 aktivis yang mulai masuk parpol, karena perjuangan di jalanan tidak menghasilkan. sehingga mereka berniat mencapainya lewat kekuatan dalam parlemen. untuk ke depannya, yaa berdoa saja semoga yaa. hehehe
t471m
reply
t471m wrote on Dec 21, '08
thanx to salma...atas kunjungannya. hehehe
buat Aggie...sudah ditelp kok orangnya. trus dipaksa suruh baca. hehehe
aggiechan
reply
aggiechan wrote on Dec 21, '08
biar saya gak sia sia waktu peristiwa itu susah pulangkuliahnya gara gara terjebak di taksiiii
t471m
reply
t471m wrote on Dec 21, '08
waduh, jadi ga enak ati.lain kali kalo terjebak macet gara-gara demo...sebut namaku 3 kali...pasti deh...ga efek juga. tetap aja macet.hihihi
niceday11
reply
niceday11 wrote on Dec 21, '08
hmmmmm.....kangen saat-sat itu.
t471m
reply
t471m wrote on Dec 22, '08
Hallo Bro, kemana aja lo?buset habis ke batam ga bawa oleh-oleh. trus menghilang lagi.hehehe tar pemilu pilih kawan gue Masinton yee. hahaha gue kayak tim suksesnya aja.
audio reply video reply
Add a Comment
Kekhawatiran Kembalinya Sistem Orba Perlu Dijawab

Jakarta, Kompas - Munculnya sosok berlatar belakang militer sebagai calon presiden seperti Jenderal (Purn) Susilo Bambang Yudhoyono dan Jenderal (Purn) Wiranto disambut kelompok masyarakat dengan perasaan berbeda. Pada satu sisi terpilihnya pensiunan tentara patut disyukuri. Namun, di sisi lain, sebagian masyarakat yang pernah menjadi korban rezim Orde Baru mengkhawatirkan kembalinya sistem politik yang represif.
Dalam kaitan itu, para calon presiden perlu menjawab kekhawatiran sejumlah anggota masyarakat tersebut. "Tidak serta-merta sistem Orde Baru kembali dengan menguatnya sosok berlatar belakang militer seperti Yudhoyono dan Wiranto. Tetapi, banyak kalangan tetap khawatir kembalinya sistem Orde Baru lantaran keterkaitan erat tokoh berlatar belakang militer dengan masa lalu. Tokoh itu sedang menjabat dan merupakan pendukung sistem Orde Baru," ujar peneliti dan pengamat militer dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), Edy Prasetyono, yang dihubungi di Surabaya, Rabu (21/4).
Kemarin, di Gedung Perpustakaan Nasional Jakarta, lebih dari seratus aktivis 1998 berkumpul dan berdiskusi. Mereka khawatir terpilihnya kandidat presiden dari kalangan militer membuat usaha penegakan hukum dan demokratisasi usai, sementara korupsi makin merajalela. Indonesia baru ditandai oleh babak otoritarianisme.
Pertemuan tersebut dihadiri antara lain oleh Safiq Alieha, Fadjroel Rahman, Adian Napitupulu, Anton Aritonang, Masinton Pasaribu, Eli Salomo, Sarbini, Abdullah, Eki, Ivan, Mixil, Upay, dan Jimbong. Mereka memimpin langsung aksi unjuk rasa puluhan ribu mahasiswa yang kemudian ikut memaksa Presiden Soeharto mengundurkan diri.
Hadir pula orangtua dan keluarga para mahasiswa yang tewas dalam tragedi berdarah Trisakti, Semanggi I dan II, serta keluarga korban kerusuhan Mei.
Dalam kesempatan itu ditekankan bahwa sejauh ini upaya pengungkapan kasus kerusuhan penembakan mahasiswa Trisakti, kerusuhan Mei, peristiwa Semanggi I dan II terhambat oleh kekuatan politik di parlemen yang lebih berpihak kepada kekuatan lama.
Reaksi berbeda
Reaksi berbeda justru disampaikan oleh Persatuan Purnawirawan dan Warakawuri Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Republik Indonesia (Pepabri). Pepabri justru bersyukur dengan terpilihnya Wiranto sebagai calon presiden dari Partai Golkar.
"Rasa syukur itu patut disampaikan lantaran purnawirawan dapat diterima baik oleh masyarakat luas. Pepabri menyebut Yudhoyono dan Wiranto telah ditetapkan oleh partai masing-masing sebagai calon presiden, sebagai putra terbaik. Pencalonan mereka itu merupakan wujud dari kepercayaan rakyat kepada purnawirawan," ujar Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Pepabri Inspektur Jenderal (Purn) Putera Astaman.
Perlu beri penjelasan
Menjawab kekhawatiran sejumlah kalangan mengenai akan kembalinya sistem politik Orde Baru (Orba), menurut Edy, baik Wiranto maupun Yudhoyono perlu memberikan penjelasan kepada masyarakat luas mengenai masalah, posisi, dan peran tokoh berlatar belakang militer itu ketika Orba berkuasa. Masyarakat yang trauma dengan politik masa lalu itu harus diberi penjelasan.
"Jika ini tidak dilakukan, lawan politik mereka dapat menggunakan hal ini sebagai kesempatan melakukan serangan. Serangan itu selain memaksa adanya penjelasan bagi masyarakat juga merupakan kesempatan pendidikan politik. Diskursus secara sehat akan terjadi dan rakyat akan memiliki bekal yang lebih rasional untuk menetapkan pilihannya," kata Edy menjelaskan.
Kesempatan munculnya kekuatan lama, tutur Edy, merupakan peluang bagi lawan politik tokoh berlatar belakang militer untuk menaikkan kembali popularitasnya, seperti Megawati Soekarnoputri dan Amien Rais. Dengan pemilihan presiden langsung yang menyandarkan pilihan pada sosok atau figur, pembeberan track record (latar balakang) menjadi penting.
Munculnya kembali tokoh yang berkuasa dan cukup memiliki masalah ketika Orba berkuasa lewat Pemilu 2004 dinilai sebagai kegagalan elite melakukan pendidikan politik kepada rakyat. Kegagalan pendidikan politik itu dipersubur dengan ajakan kepada rakyat untuk menjadi oportunis.
"Sejauh ini rakyat tidak cukup diberi pendidikan untuk mandiri menentukan pilihannya. Rakyat banyak selalu diberi insentif berupa uang untuk menentukan pilihan politiknya," ujar Edy.
Namun, lanjutnya, munculnya tokoh berlatar belakang militer dan masa lalu tidak bisa disalahkan begitu saja lantaran mereka sampai pada tahapan itu setelah melalui prosedur politik yang benar. "Karena itu, kesempatan yang kini dimiliki tokoh berlatar belakang militer dan masa lalu itu merupakan kesempatan bagi mereka untuk membuktikan komitmen pada demokrasi," ujar Edy.
Pengadilan HAM
Dalam pertemuan para aktivis di Gedung Perpustakaan Nasional kemarin, beberapa orang juga mendesak Presiden Megawati untuk menggelar pengadilan hak asasi manusia (HAM) ad hoc bagi anggota militer yang diduga keras terlibat langsung dalam berbagai kasus pelanggaran HAM berat tahun 1998.
"Di bawah kepemimpinan para loyalis Soeharto, Indonesia akan kehilangan banyak kawan. Tidak akan ada program tentang pemberantasan korupsi, kolusi dan nepotisme. Tidak akan ada pengadilan HAM ad hoc terutama bagi Soeharto," ucap Ketua Umum Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia Hermawan.
Pengamat politik Bachtiar Effendi, sebagaimana dikutip Antara, menilai naiknya figur militer dalam bursa pemilihan presiden tidak akan mengembalikan Indonesia ke dalam percaturan politik era Orba yang otoriter dan sentralistik. Hal itu mengingat sistem politik nasional saat ini merupakan hasil konsensus bersama seluruh komponen bangsa, termasuk TNI, yang tidak boleh dilanggar. "Kalau ada yang bilang dengan munculnya figur militer menandakan bangkitnya kekuatan lama, menurut saya, itu sangat berlebihan," katanya.
Bachtiar mencontohkan, seluruh komponen bangsa ini telah sepakat untuk menjalankan sistem desentralisasi politik sejak era reformasi digulirkan, sesuatu yang sangat ditentang di masa Orba.
Kalau itu saja dihapuskan dan Indonesia kembali ke sistem sentralistik, siapa pun pemimpin bangsa ini, baik sipil maupun militer, akan mendapat kecaman dan tentangan keras dari masyarakat.
"Jadi, meski ada dua jenderal bertarung memperebutkan kursi presiden, sulit untuk mengembalikan Indonesia ke era Orde Baru," kata Bachtiar. (win/inu/Ant)
Search :
Berita Lainnya :
·
Setelah Wiranto Menang, Koalisi Mulai Dipacu
·
Warga Jakarta Terjebak Kemacetan Berjam-jam
·
Kekhawatiran Kembalinya Sistem Orba Perlu Dijawab
·
Bom Mobil di Basra, Sedikitnya 60 Tewas
·
Pianis Rudy Laban Tutup Usia
·
"Good Morning", Selamat Pagi, Partai Golkar Menguasai Sehari
·
Menyelamatkan Bumi, Air, atau Manusia?
Selasa, 14 April 2009
Presiden pro Rakyat
Morales Lanjutkan Mogok Makan
Senin, 13 April 2009 11:11 WIB
Buzz up!
LA PAZ--MI: Presiden Bolivia Evo Morales, Minggu (12/4) --memasuki hari ke tiga--, berikrar akan melanjutkan mogok makan, sampai anggota parlemen dari kubu oposisi menyetujui peaturan pemilihan umum yang dipandang membantu sekutu mantan petani coca itu dalam pemungutan suara Desember mendatang.
Presiden sayap kiri tersebut, yang mengatakan ia pernah hidup tanpa makanan selama 18 hari pada saat menjadi pemimpin serikat buruh, berhenti makan pada Kamis (9/4) guna memprotes upaya oposisi menghalangi peraturan pemilihan umum itu di Kongres.
Penentangnya dari sayap-kanan khawatir rancangan undang-undang tersebut, yang sebagian sudah disetujui, akan memberi Morales keunggulan di dewan legislatif dengan menguasai lebih banyak kursi dari kelompok miskin, beberapa bagian suku pribumi di negara yang kaya akan energi tersebut, tempat sangat populer.
Morales, sekutu dekat Presiden Venezuela Hugo Chavez, telah tiga hari tidur di atas kasur di lantai istana presiden dengan dikelilingi oleh spanduk protes tulisan tangan dan pendukung yang mengunyah daun coca untuk menghilangkan lapar. Kerangka kerja rancangan peraturan pemilihan umum itu disahkan pada Kamis, tapi Kongres masih harus menyetujui perinciannya.
Partai Morales memiliki cukup banyak suara guna mensahkannya dalam sidang gabungan majelis rendah atau Senat, tapi oposisi menolak memberi kuorum yang diperlukan bagi pemungutan suara mengenai tindakan tersebut, yang mengkonfirmasi 6 Desember sebagai tanggal pemilihan umum. "Rencana mereka ialah menghentikan pemilihan umum ... mereka tahu kami dapat menang dengan dua-pertiga suara," kata Morales, yang mencap pesaingnya sebagai "rasis, fasis dan egois".
Pemungutan suara baru-baru ini memperlihatkan Morales, pengecam keras Washington, jauh mengungguli pesaing terdekatnya dalam perebutan jabatan presiden. Ia terkenal di kalangan mayoritas warga pribumi Andea karena memperjuangkan hak mereka sejak ia memangku jabatan pada 2006.
Tonggak sejarah kebijakan pro-pribimunya ialah undang-undang dasar baru, yang disetujui dalam satu pemungutan suara pada Januari dengan lebih dari 60 persen dukungan. Undang-undang dasar itu menyerukan pemilihan umum Desember. Dalam proses tersebut, Morales akan mencalonkan diri lagi dan anggota Kongres baru akan dipilih. Tenggat bagi penetapan tanggal pemungutan suara ialah 9 April.
Kongres dijadwalkan bertemu lagi Minggu malam, tapi sebagian anggota oposisi sebelumnya mengatakan mereka ingin merundingkan masalah tertentu dengan partai yang berkuasa sebelum menghadiri sidang pemungutan suara.
Saat wawancara televisi Minggu, Morales menerima telepon dari Presiden Venezuela Hugo Chavez, yang menyampaikan dukungannya. Morales mengatakan mantan pemimpin Kuba Fidel Castro, yang masih sakit, juga telah menelepon dia. "Kami berbicara dan saya hampir menangis setelah mendengar suara rekan saya, Fidel," kata Morales.
Dalam konsesi kepada pengeritiknya, Morales pada Sabtu menginstruksikan pemerintah agar melakukan sensus baru pemilihan umum. Anggota parlemen dari oposisi telah mengatakan Morales dapat mengambil keuntungan dari 'cacat' di dalam sensus yang ada guna melakukan kecurangan.
Beberapa politikus oposisi telah menyebut mogok makan Morales sebagai "pemerasan politik", sementara mantan Presiden Jorge 'Tuto' Quiroga membantahnya sebagai "diet seorang presiden".
Morales mengatakan ia selama 18 hari tanpa makanan pada 1998 guna memprotes kebijakan pemerintah tentang coca, bahan mentah bagi pembuatan kokain tapi juga digunakan oleh orang Indian Bolovia sebagai bahan penambah gizi dan obat. "Kami gemetar; semuanya kelihatan berwarna kuning," kata Morales, yang muncul sebagai pemimpin serikat petani coca. (Ant/OL-04)
Senin, 13 April 2009 11:11 WIB
Buzz up!
LA PAZ--MI: Presiden Bolivia Evo Morales, Minggu (12/4) --memasuki hari ke tiga--, berikrar akan melanjutkan mogok makan, sampai anggota parlemen dari kubu oposisi menyetujui peaturan pemilihan umum yang dipandang membantu sekutu mantan petani coca itu dalam pemungutan suara Desember mendatang.
Presiden sayap kiri tersebut, yang mengatakan ia pernah hidup tanpa makanan selama 18 hari pada saat menjadi pemimpin serikat buruh, berhenti makan pada Kamis (9/4) guna memprotes upaya oposisi menghalangi peraturan pemilihan umum itu di Kongres.
Penentangnya dari sayap-kanan khawatir rancangan undang-undang tersebut, yang sebagian sudah disetujui, akan memberi Morales keunggulan di dewan legislatif dengan menguasai lebih banyak kursi dari kelompok miskin, beberapa bagian suku pribumi di negara yang kaya akan energi tersebut, tempat sangat populer.
Morales, sekutu dekat Presiden Venezuela Hugo Chavez, telah tiga hari tidur di atas kasur di lantai istana presiden dengan dikelilingi oleh spanduk protes tulisan tangan dan pendukung yang mengunyah daun coca untuk menghilangkan lapar. Kerangka kerja rancangan peraturan pemilihan umum itu disahkan pada Kamis, tapi Kongres masih harus menyetujui perinciannya.
Partai Morales memiliki cukup banyak suara guna mensahkannya dalam sidang gabungan majelis rendah atau Senat, tapi oposisi menolak memberi kuorum yang diperlukan bagi pemungutan suara mengenai tindakan tersebut, yang mengkonfirmasi 6 Desember sebagai tanggal pemilihan umum. "Rencana mereka ialah menghentikan pemilihan umum ... mereka tahu kami dapat menang dengan dua-pertiga suara," kata Morales, yang mencap pesaingnya sebagai "rasis, fasis dan egois".
Pemungutan suara baru-baru ini memperlihatkan Morales, pengecam keras Washington, jauh mengungguli pesaing terdekatnya dalam perebutan jabatan presiden. Ia terkenal di kalangan mayoritas warga pribumi Andea karena memperjuangkan hak mereka sejak ia memangku jabatan pada 2006.
Tonggak sejarah kebijakan pro-pribimunya ialah undang-undang dasar baru, yang disetujui dalam satu pemungutan suara pada Januari dengan lebih dari 60 persen dukungan. Undang-undang dasar itu menyerukan pemilihan umum Desember. Dalam proses tersebut, Morales akan mencalonkan diri lagi dan anggota Kongres baru akan dipilih. Tenggat bagi penetapan tanggal pemungutan suara ialah 9 April.
Kongres dijadwalkan bertemu lagi Minggu malam, tapi sebagian anggota oposisi sebelumnya mengatakan mereka ingin merundingkan masalah tertentu dengan partai yang berkuasa sebelum menghadiri sidang pemungutan suara.
Saat wawancara televisi Minggu, Morales menerima telepon dari Presiden Venezuela Hugo Chavez, yang menyampaikan dukungannya. Morales mengatakan mantan pemimpin Kuba Fidel Castro, yang masih sakit, juga telah menelepon dia. "Kami berbicara dan saya hampir menangis setelah mendengar suara rekan saya, Fidel," kata Morales.
Dalam konsesi kepada pengeritiknya, Morales pada Sabtu menginstruksikan pemerintah agar melakukan sensus baru pemilihan umum. Anggota parlemen dari oposisi telah mengatakan Morales dapat mengambil keuntungan dari 'cacat' di dalam sensus yang ada guna melakukan kecurangan.
Beberapa politikus oposisi telah menyebut mogok makan Morales sebagai "pemerasan politik", sementara mantan Presiden Jorge 'Tuto' Quiroga membantahnya sebagai "diet seorang presiden".
Morales mengatakan ia selama 18 hari tanpa makanan pada 1998 guna memprotes kebijakan pemerintah tentang coca, bahan mentah bagi pembuatan kokain tapi juga digunakan oleh orang Indian Bolovia sebagai bahan penambah gizi dan obat. "Kami gemetar; semuanya kelihatan berwarna kuning," kata Morales, yang muncul sebagai pemimpin serikat petani coca. (Ant/OL-04)
Rabu, 08 April 2009
Rabu, 25 Maret 2009
MASINTON PASARIBU MODAL TEKAD DAN KOMITMEN AKTIVIS
Senin, 23/03/09, 12:41:35 WIB
Meski berbeda dengan caleg berkantong tebal, tidak membuat Masinton mundur sebagai caleg. “Saya hanya punya modal tekad, bukan modal nekat,” kata Caleg DPR dari PDIP ini ketika berbincang dengan RMOnline, Senin (23/3).
Mantan aktivis mahasiswa 1998 ini mengatakan dengan modal tekad tersebut, dalam mensosialisasikan pencalegannya dia aktif mendatangi warga di dapilnya di Jakarta III yang meliputi Jakarta Barat, Utara dan Kepulauan Seribu.
Menurut aktivis Relawan Demokrasi Perjuangan (Repdem) ini, setiap mengunjungi konstituennya, dia memberikan penyadaran dan pencerahan politik terutama mengenai hak setiap warga negara.
Sebab, selama ini hak warga negara sangat kurang diperhatikan oleh negara. Padahal negara berkewajiban memenuhi hak-hak dari rakyatnya.
Begitu juga dengan Pemilu kali ini, bagi Masinton, rakyat harus disadarkan bahwa agenda demokrasi merupakan bagian dari perjuangan masyarakat untuk memilih wakil-wakilnya yang dapat mendorong agar negara melaksanakan kewajibannya terhadap rakyat.
“Terutama membuka lapangan pekerjaan, memberikan sembako yang murah, mendapat pendidikan dan lain-lain,” ujarnya.
Selain itu, selama menggarap konstituennya tersebut Masinton mendekatkan diri dengan melakukan advokasi. Misalnya ketika ada konstituennya yang sakit tapi dipersulit mendapatkan perawatan di rumah sakit, dia mendampingi mereka.
Dalam mensosialisasikan dirinya sebagai caleg, Masinton dibantu oleh penyanyi balada, Franky Sahilatua. Menurut dia, keinginan Franky membantu dirinya tidak didasarkan materi.
“Tidak ada kompensasi buat Bang Franky,” katanya.
Menurut Masinton selama ini banyak pihak atau caleg lain yang meminta Franky untuk membantu. Tapi tawaran itu ditolaknya. Masinton mengatakan dirinya sempat kaget ketika Franky menyatakan kesediaannya untuk membantu sosialisasi pencalegannya.
Ternyata sikap Franky tersebut yang tulus membantu dirinya tersebut sebagai bagian perjuangan dirinya untuk menciptakan parlemen yang berkualitas.
“Mungkin selama ini Bang Franky melihat komitmen saya dalam berjuang bersama mahasiswa 1998 terutama dalam memperjuangkan reformasi dan menentang KKN,” ujar Masinton beralasan.
Kepada konstituennya, Masinton menjelaskan bahwa politik tidak ada kaitannya dengan pemberian dari caleg. Kalau hal itu terjadi, maka caleg yang terpilih akan melakukan transaksi politik di Senayan untuk mengembalikan dananya selama pencalegan.
“Rakyat hanya dimanfaatkan,” katanya.
Untuk itu terhadap konstituennya, Masinton mengaku telah membuat kontrak politik antara lain membangun simpul-simpul aspirasi agar dirinya tetap dengan konstituennya. Dengan adanya simpul tersebut dia dapat merespon aspirasi ataupun persoalan yang dihadapi konstituenya dan mencari solusi penyelesaian.
Sumber: RAKYAT MERDEKA
www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=interpelasi&id=44
Meski berbeda dengan caleg berkantong tebal, tidak membuat Masinton mundur sebagai caleg. “Saya hanya punya modal tekad, bukan modal nekat,” kata Caleg DPR dari PDIP ini ketika berbincang dengan RMOnline, Senin (23/3).
Mantan aktivis mahasiswa 1998 ini mengatakan dengan modal tekad tersebut, dalam mensosialisasikan pencalegannya dia aktif mendatangi warga di dapilnya di Jakarta III yang meliputi Jakarta Barat, Utara dan Kepulauan Seribu.
Menurut aktivis Relawan Demokrasi Perjuangan (Repdem) ini, setiap mengunjungi konstituennya, dia memberikan penyadaran dan pencerahan politik terutama mengenai hak setiap warga negara.
Sebab, selama ini hak warga negara sangat kurang diperhatikan oleh negara. Padahal negara berkewajiban memenuhi hak-hak dari rakyatnya.
Begitu juga dengan Pemilu kali ini, bagi Masinton, rakyat harus disadarkan bahwa agenda demokrasi merupakan bagian dari perjuangan masyarakat untuk memilih wakil-wakilnya yang dapat mendorong agar negara melaksanakan kewajibannya terhadap rakyat.
“Terutama membuka lapangan pekerjaan, memberikan sembako yang murah, mendapat pendidikan dan lain-lain,” ujarnya.
Selain itu, selama menggarap konstituennya tersebut Masinton mendekatkan diri dengan melakukan advokasi. Misalnya ketika ada konstituennya yang sakit tapi dipersulit mendapatkan perawatan di rumah sakit, dia mendampingi mereka.
Dalam mensosialisasikan dirinya sebagai caleg, Masinton dibantu oleh penyanyi balada, Franky Sahilatua. Menurut dia, keinginan Franky membantu dirinya tidak didasarkan materi.
“Tidak ada kompensasi buat Bang Franky,” katanya.
Menurut Masinton selama ini banyak pihak atau caleg lain yang meminta Franky untuk membantu. Tapi tawaran itu ditolaknya. Masinton mengatakan dirinya sempat kaget ketika Franky menyatakan kesediaannya untuk membantu sosialisasi pencalegannya.
Ternyata sikap Franky tersebut yang tulus membantu dirinya tersebut sebagai bagian perjuangan dirinya untuk menciptakan parlemen yang berkualitas.
“Mungkin selama ini Bang Franky melihat komitmen saya dalam berjuang bersama mahasiswa 1998 terutama dalam memperjuangkan reformasi dan menentang KKN,” ujar Masinton beralasan.
Kepada konstituennya, Masinton menjelaskan bahwa politik tidak ada kaitannya dengan pemberian dari caleg. Kalau hal itu terjadi, maka caleg yang terpilih akan melakukan transaksi politik di Senayan untuk mengembalikan dananya selama pencalegan.
“Rakyat hanya dimanfaatkan,” katanya.
Untuk itu terhadap konstituennya, Masinton mengaku telah membuat kontrak politik antara lain membangun simpul-simpul aspirasi agar dirinya tetap dengan konstituennya. Dengan adanya simpul tersebut dia dapat merespon aspirasi ataupun persoalan yang dihadapi konstituenya dan mencari solusi penyelesaian.
Sumber: RAKYAT MERDEKA
www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?url=situsberita/index.php?pilih=interpelasi&id=44
Langganan:
Postingan (Atom)





















